LELAKI ITU…. BERNAMA “ MAWAR”
LELAKI ITU…. BERNAMA “ MAWAR”
“ Cinta itu tak masuk dalam nalarku Zahra,,, namun ketika si “Mawar hitam” itu muncul… aku hanya seperti keledai bodoh dihadapannya...”
Dia didepanku Zahra, sekarang!!!
Lembayung sore menyapa, ia kembali menunjukkan keperkasaannya kepada tiap-tiap jiwa anak adam. Suara para penjemput seolah bersahut-sahutan dengan deru mobil yang lalu lalang di sekitar pelabuhan Bima . Kupercepat langkahku, bis jurusan Bima – Sape sebentar lagi akan berangkat,
“ Pak… tunggu.!!!” seruku kepada supir yang hampir tancap gas.
“ Roci- roci[1] “ serunya pula.
“ Alhamdulillah…. “ batinku.
Mentari kini kemerahan cahayanya buram Zahra, tepat 3 tahun aku telah meninggalkan Dana Mbojo[2] tercinta dan kini aku kembali. Mengabarkan kepada ibu dan bapak bahwa aku akan segera diwisuda. Zahra, tepat setelah aku menuliskan catatan kecil ini untukmu disampingku ternyata ada sosok yang aneh yang selalu memegang mawar. Namun aku merasa ia tak asing Zahra. Entahlah… yang pasti dia satu kampung denganku. Hanya itu yang kutahu saat ini.
Cinta itu aneh Zahra…. Apa dalam ketidaksadaranmu, kamu juga memimpikan sosok cinta yang selama ini kau impikan ?????aku merindukanmu Zahra, andai waktu itu aku mampu menolongmu… ah andai...
Malam merambah, menjalari setiap denyut resahku, jalanan berkelok, licin, aku baru menyadarinya Zahra, ternyata baru saja bis kami melewati “ jurang pengantin”. Aku belum pernah cerita tentang jurang penganti kepadamu ya??? sepertinya aku belum terlalu banyak bercerita tentang Bima ku tersayangJ
Dulu, menurut ceritanya ayahku, ada sepasang pengantin yang jatuh di jurang yang curam itu Zahra!! aku tak bisa bayangkan. Sekarang tempat itu dinggap sebagai salah satu tempat yang” cukup” menyeramkan Zahra.
Kulirik jam yang melingkar manis di tanganku, hadiah darimu tahu lalu Zahra. Pukul 21.30 WITA, akhirnya aku tiba di Sape Zahra, meski malam kurasakan aroma pedesaan begitu kental, rumah-rumah panggung berjejeran dengan rapi, ah… rindu… setelah lama berkutat dengan perkuliah di kota daeng. Bima aku kembali, J
Lelaki “ mawar” itu akhirnya turun Zahra, entah mengapa aku merasa auranya sangat aneh. semisal lukisan, aku akan kesulitan melukiskan pribadinya, mungkin warna yang akan kutorehkan dalam kanvas akan abstrak Zahra. Entahlah…
Seminggu sudah aku bersua dengan Dana Mbojo, kau tahu Zahra.. selama aku disini, aku beberapa kali bertemu dengan si “ mawar”, ia sempat menanyakan namaku Zahra!! yang paling membuatku kaget ia tahu aku kuliah di Universitas Hasanuddin, bahkan jurusanku pun ia tahu. Sungguh misterius, namun aku tak sempat menanyakan namanya Zahra L
“ Sepertinya kita akan sering bertemu, Semoga sahabatmu cepat diberi kesembuhan oleh Allah SWT ” katanya mengakhiri percakapan kami sore itu. Meninggalkanku dengan kegamangan, mengapa ia mengetahui tentang kamu ya Zahra??? Sementara aku tak pernah menceritakan soal kamu sedikitpun kepadanya.
Kau tahu Zahra, ternyata ia bukan orang Bima seperti yang aku terka sebelumnya. Yah dia dari kota daeng!! Sama sepertimu Zahra. Namun dia begitu misterius, aku bahkan tak tahu namanya. Zahra, kau tahu?? Ketika aku berada di pantai torowamba aku melihatnya lagi, pantai torowamba adalah salah satu objek wisata yang dari kecil aku gemari, pantainya berpasir putih, ditengahnya terdapat pulau kecil dengan gua-gua yang indah, kamu pasti bingung ketika kamu sadar nanti membaca tulisanku ini, kau tahunya aku tak suka pantai ya?? J
Yah aku tak menyukai pantai ketika pantai itu bising, namu ketika sendiri aku sangat mengagumi mereka. Yah, aku menamakan pantai-pantai sunyi itu pantai lita J,,, Zahra, gimana keadaanmu, kemaren aku menanyakannya kepada ibumu, kamu tambah membaik, aku rindu sekali padamu.
Tanggal 15 Mei 2012, tepat 3 bulan kau menjadikan rumah sakit itu “ rumah kedua” mu, rasa bersalah itu selalu menggelayutiku Zahra, andai aku mampu menyelamatkanmu dalam kecelakaan itu. Ah andai….
Ra, kau ingatkan, kamu pernah menggodaku dengan kakakmu yang bahkan aku belum pernah melihatnya, kamu bilang setelah UTS kamu akan memperlihatkan fotonya, kamu jahat Zahra, kenapa kamu belum menunaikan janjimu, malah membuatku sedih dengan keadaanmu.
Angin kota daeng melambai, mengecup setiap desah nafas insan perindunya. Diruang bercat putih ini, aku hanya terpaku Zahra, Dia didepanku sekarang Zahra!! Yah si “ mawar hitam” itu. Ada dalam ruangan serba putih ini, bersama ayah dan ibumu….
Jadi, diakah kakak yang selalu kamu ceritakan??? Ikhwan yang kuliah di universitas Zaituna, Tunisia??? Yang ingin kamu kenalkan padaku??? Kakak yang amat kamu sayangi, karna kelembutannya, meskipun dengan “ keanehannya”…. Jadi itukah yang berbeda darinya,, selalu memegang mawar . Diakah…..
“ Afwan… sepertinya kita belum berkenalan secara resmi, aku Harun,,, Harun Al rasyid… kita sempat bertemu beberapa kali di kotamu” ujarnya sembari tersenyum.
“ Saya Diah Khairunnisa, jadi mas Harun kakaknya Zahra??” kataku sambil menunduk.
“ Ia, Afwan dek waktu itu kamu pasti bingung, kenapa aku mengetahui tentang Zahra, sekarang kamu pasti mengetahuinya. Insya Allah.”
Zahra… kau tahu,,, entah mengapa jantungku berdegup tidak beraturan. Apa ini cinta seperti teorimu??? Nalarku sekarang berbanding terbaalik ketika berhadapan dengan kata yang bernama “ cinta” Ra!!!
Ra…. Aku hanya mampu menitikan air mata ketika mas Harun mengkhitbahku, tepat sebulan setelah wisuda aku akan walihan dengannya Ra,,, aku ingin kamu ada disini.. menyaksikan si “ mawar hitam” itu menjadikanku halal untuknya… Ra,,,,
***********
“ Cinta itu bukan teori Ra, sekalipun aku selalu ingin menjabarkan cinta itu seperti apa. Namun nyatanya, ketika ia hadir, teori-teori itu justru memutar balik kearahku,,,, mungkin benar katamu…. Ia seperti hantu…”
Komentar
Posting Komentar